Selasa, 06 Desember 2011

Manajemen Pemasaran Kota Depok

Kalau dicermati sekilas, Kota Depok memiliki sejarah yang sangat luar biasa. Bagi orang awam yang tidak banyak mengetahui perkembangan Kota Depok secara gamblang, kemungkinan besar mereka akan menganggap bahwa Depok adalah Kota yang berkembang sangat pesat, itu anggapan orang awam, karena Depok diapit oleh 2 kota besar yaitu Jakarta dan Bogor. Dan ternyata anggapan itu benar adanya, Kota Depok memiliki perkembangan yang sangat pesat, hampir di semua bidang. Saya sebenarnya ingin sekali tinggal di Depok, namun saat ini belum saatnya.
Pemerintah Kota Depok, kalau memang benar-benar bertugas dengan baik, akan merasa memiliki beban berat dalam mengemban tanggung jawab menjaga dan mengembangkan Kota Depok lebih jauh. Karena Kota Depok memiliki peran penting bagi kota lain, terutama sebagai daerah resapan air, daerah industri (limpahan dari Kota Jakarta), kampus dan sebagai tempat bermukim bagi penduduk yang bekerja di Kota Jakarta. Jakarta merupakan sasaran tembak bagi para pekerja, kenapa Jakarta tidak ditembak dari Depok saja? Makin berkembangnya transportasi dan alur lalu lintas yang menghubungkan Depok – Jakarta akan membuat Depok menjadi limpahan modernisasi, kapitalisasi, industrialisasi, perdagangan, ekonomi dan bisnis, permukiman, dari Jakarta. Ini yang kini menjadi tugas berat bagi Pemkot Depok untuk menjaga dan mengembangkan pelayanan kepada penduduk, baik yang asli Depok maupun pendatang.
Untuk mendukung pelayanan tersebut, agar hasilnya optimal, maka dibutuhkan adanya pengetahuan mengenai manajemen pemasaran bagi pihak-pihak terkait, terutama di jajaran Pemerintah Kota, agar terjadi koordinasi yang terarah dari atas ke bawah. Akan lebih baik tentunya semua lapisan masyarakat tahu mengenai Pemasaran Daerah, namun hal ini sulit dilakukan. Maka Pemerintah Kota yang harus menjadi manajer pemasaran kotanya, agar Kota Depok semakin berkembang pesat bukan saja karena pengaruh dari keuntungan dekatnya dengan ibukota, namun atas usaha mandiri dari Kota Depok sendiri, hal tersebut tentunya akan menghasilkan keuntungan berlipat, dan bisa dinikmati berlebih oleh pemerintah dan lapisan masyarakat Depok.
Lalu bagaimana cara memasarkan Kota Depok agar terjaga dan terpelihara perkembangannya, bahkan agar berkembang berlipat-lipat? Ada 2 jawaban kecil, yaitu memilih Positioning atau jati diri / kepemilikan Kota Depok dengan tepat, dan yang kedua adalah Mendramatisir Positioning tersebut, atau dengan kata lain fokus menjaga dan memelihara positioning. Apapun positioning yang dimiliki Kota Depok asalkan dipetakan dengan benar, lalu kemudian didramatisir dengan fokus memelihara positioning tersebut, yakinlah bahwa Kota Depok akan berkembang pesat berlipat-lipat / berlebih dengan didasarkan pada keaslian Kota depok sendiri, bukan akibat pengaruh kehebatan kota lain.

Minggu, 16 Oktober 2011

Program Studi Manajemen Pemasaran

Program studi Manajemen Pemasaran Politeknik Ubaya :

Marketing memainkan peran penting dalam menciptakan dan memelihara keunggulan bersaing bagi perusahaan di dalam era bisnis modern pada saat ini.
Masa depan perusahaan sangat tergantung kepada kemampuan perusahaan untuk memahami pembeli dan pasar secara lebih baik dibandingkan pesaing dalam rangka untuk memuaskan kebutuhan pelanggan.
Pemasaran telah digunakan secara global di semua sektor bisnis dan organisasi nirlaba sehingga peluang karir di bidang pemasaran sangat terbuka lebar.
Praktisi marketing banyak dibutuhkan oleh dunia bisnis, industri dan sektor publik.

Peluang Karir

Setelah menyelesaikan pendidikan pada program studi ini, lulusan program studi manajemen pemasaran dapat menduduki posisi pekerjaan sebagai sales & marketing executive, customer relation officer, public relation, di sektor bisnis maupun publik.

Empat Pilar Manajemen Pemasaran

Dalam ilmu pemasaran, dikenal adanya elemen 4 P atau merupakan singkatan dari product, promotion, place dan price. Mari kita membahasnya satu per satu secara renyah, dengan disertai beragam contoh aktual. Slide powerpoint presentasi yang amat menarik mengenai Manajemen Pemasaran dapat Anda lihat DISINI.
Toyota Kijang Innova, Sepatu Nike, ponsel Nokia, Busway, tabungan BCA, ataupun praktek tukang gigi dan jasa paranormal, merupakan contoh beragam produk yang siap dipasarkan. Ada produk yang berupa barang berbentuk fisik (seperti rokok, ponsel, ataupun sepeda motor), dan adapula yang berbentuk jasa, semacam jasa tabungan, jasa telekomunikasi, ataupun jasa perawatan tubuh dan spa.
Dalam konsep produk, kita mengenal produk premium atau produk yang memiliki diferensiasi, fitur unik, dan berkelas, sehingga layak diberi harga yang lebih mahal. Contoh : mobil BMW, Porsche, jam tangan Gucci, dasi Giani Versace ataupun laptop Fujitsu. Pada sisi lain, terdapat konsep produk me too, yakni produk yang didesain dengan menjadi imitator dari produk yang lebih dulu masuk ke pasar dan sukses. Giv adalah me too dari Lux ataupun HiTech adalah ponsel lokal yang mencoba meniru aneka produk Nokia.
Promosi adalah langkah yang perlu dilakukan untuk mengenalkan dan juga membujuk para calon pembeli agar mau mengeluarkan uang buat membeli produk kita. Dalam promosi sendiri dikenal adanya promotion mix, atau kombinasi program promosi yang berujud dalam empat elemen kunci, yakni promosi melalui iklan, melalui publikasi, melalui sales promotion, dan melalui personal selling.
Place artinya apakah produk kita akan dijual di lapak kakilima atau di outlet megah Metro di Plaza Senayan. Place menyangkut strategi distribusi yang hendak kita lakukan. Terdapat toga model distribusi, yakni distribusi eksklusif, distribusi selektif, dan distribusi intensif. Distribusi eksklusif hanya memasarkan produk dan jasa pada outlet yang terbatas guna menjaga prestise dan reputasi produk. Kaos Joger misalnya hanya dipasarkan di satu lokasi, yakni di Kuta, Bali. Sementara jam tangan Audemar Piaget juga hanya dipasarkan pada outlet terpilih di mal-mal kelas atas. Distribusi selektif adalah rangkaian produk yang misalnya hanya dijual di outlet modern, semacam Carefour, Hero dan Indomart, dan tidak dijual di pasar-pasar tradisional. Sementara distribusi intensif merupakan produk yang dipasarkan ke seluruh jenis pasar, baik modern ataupun tradisional, dan mencakup seluruh wilayah Indonesia.
Pricing adalah menyangkut strategi kita dalam menetapkan harga produk. Seperti disebutkan diatas, untuk produk-produk dengan diferensiasi yang kuat, kita bisa menetapkan harga premium. Misalnya adalah sepeda motor Harley Davidson ataupun mobil Porsche. Ada juga produk yang dijual dengan strategi low cost. Misal jasa telpon yang ditawarkan para operator cdma seperti Esia dan Fleksi.
Selain itu, terdapat tiga jenis strategi penetapan harga. Yang pertama adalah strategi harga berdasarkan biaya, dimana pemasar menentukan harga dengan menghitung biaya-biaya, biaya overhead, dan kemudian menambahkan margin keuntungan yang diinginkan. Strategi kedua adalah strategi harga berdasarkan permintaan, atau pemasar menentukan harga setelah meneliti keinginan konsumer dan memastikan range harga yang dapat diterima oleh target pasar. Yang terakhir adalah strategi harga berdasar pola persaingan. Disini pemasar menentukan harga berdasar kondisi harga yang ditawarkan pesaing. Harga mungkin berada di bawah pasar, sesuai pasar, atau di- atas pasar, tergantung pada kesetiaan pelanggan, reputasi, dan kondisi lingkungan persaingan.

UMKM Harus Miliki Manajemen Pemasaran dan Manajemen Keuangan


Pariaman, Humas---Untuk bisa sukses dalam menjalankan usaha, memperluas segmentasi pasar, memiliki perencanaan dan pengaturan keuangan yang terarah dan bernilai ekonomi tinggi, memiliki keunggulan komperatif dan meningkatkan kemandirian serta produktifitas yang handal, maka Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) harus mutlak memiliki Manajemen Pemasaran dan Manajemen Keuangan.
“Jika UMKM mampu menyadari hal ini, maka akan terbentuk UMKM-UMKM yang tangguh, selalu bergerak maju dan visoner, sehingga pada gilirannya akan tercipta iklim perekonomian daerah yang semakin kondusif,” ungkap Walikota Pariaman diwakili Asisten Administrasi dan Pembangunan Setdako Pariaman, Drs. Yaminu Rizal,M.Si dalam sambutannya pada acara Pelatihan Manajemen Pemasaran/Manajemen Keuangan Bagi UMKM Kota Pariaman Tahun 2011, Senin (3/10) di Gedung Pondok Indah Pariaman.
Namun melihat kenyataan yang ada saat ini menurut Wako, didapati kenyataan bahwasanya masih harus diusahakan kerja keras untuk mewujudkan hal itu. Hal ini didasari oleh masih banyaknya pelaku UMKM yang belum sepenuhnya memahami pentingnya Manajemen Pemasaran dan Manajemen Keuangan ini. Pelaku UMKM masih berkutat dengan hal-hal yang berkaitan dengan teknis pembuatan atau proses produksi.
“Untuk itu Pemerintah Kota Pariaman sangat memandang perlu adanya suatu pelatihan Manajemen Pemasaran/ Manajemen Keuangan bagi pelaku UMKM Kota Pariaman, sehingga mampu memahami, mengenali dan menginspirasi serta menggerakkan jiwa dan mentalitas ke arah mentalitas usahawan yang memiliki keunggulan kompetitif yang tinggi, yang pada akhirnya akan membawa UMKM tersebut ke arah yang lebih baik dan lebih berdaya saing dengan segmen pasar yang semakin luas,” terang Wako.
Ditambahkan Wako, semua pihak tentu berharap kiranya pelatihan ini menjadi sebuah langkah awal dalam melakukan fasilitasi pembinaan UMKM di Kota Pariaman bersama tindak lanjutnya. Tindak lanjut tersebut dapat berupa pemetaan jenis-jenis UMKM dengan basis-basis tertentu, upaya promotif dalam bentuk pembenahan tampilan kemasan produk UMKM secara lebih baik dan langkah pembinaan secara kontinyu pada UMKM dengan basis tertentu yang harus berjalan secara simultan dan berkesinambungan.
“Apabila konsep ini berjalan dengan baik, kami yakin ke depannya UMKM yang ada di Kota Pariaman ini akan merasakan manfaat atas kehadiran Pemerintah yang telah mengayominya, baik melalui kegiatan pembinaan maupun tindak lanjut,” ucap Wako.